-
Recent Posts
Recent Comments
Archives
- January 2013
- December 2012
- November 2012
- October 2012
- September 2012
- June 2012
- May 2012
- April 2012
- March 2012
- February 2012
- January 2012
- December 2011
- November 2011
- October 2011
- September 2011
- August 2011
- May 2011
- April 2011
- March 2011
- February 2011
- January 2011
- December 2010
- November 2010
- October 2010
- September 2010
Categories
Meta
-
Jakarta dan banjir hari ini (dari berbagai sumber di Twitter)
Posted in Uncategorized
Leave a comment
Katakan, Jangan Diam
Suka punya sahabat sepertimu,
Seakan punya diary hidup. Aku bisa bercerita dan berbagi, tak perlu ragu.
Kita tak perlu kejadian penting untuk dinikmati, ketika salah memasang rumus matematika pun sudah membuat geli.
Dan… Di saat laraku, kamu tenang mendengarkan keluhan yang kubisikkan padamu.
Kamu berharga buatku. Tak perlu kan aku katakan itu. Kamu tahu. Hanya satu yang selalu membuatku kelu, saat suasana hatimu tak tentu, kamu selalu diam seakan membantu.
Katakan saja sahabatku, apa yg membuat biru hatimu, bukankah aku pun melakukan itu?
(Diandra Aisyah Indriantri 10.1.13)
Posted in Uncategorized
Leave a comment
Mengucapkan Selamat Natal Menurut Al-Qur’an
Sakit perut menjelang persalinan, memaksa Maryam
bersandar ke pohon kurma. Ingin rasanya beliau
mati, bahkan tidak pernah hidup sama sekali.
Tetapi Malaikat Jibril datang menghibur: “Ada anak
sungai di bawahmu, goyanghan pangkal pohon kurma
ke arahmu, makan, minum dan senangkan hatimu.
Kalau ada yang datang katakan: ‘Aku bernazar tidak
bicara.’”
“Hai Maryam, engkau melakukan yang amat buruk.
Ayahmu bukan penjahat, ibumu pun bukan penzina,”
demikian kecaman kaumnya, ketika melihat bayi di
gendongannya. Tetapi Maryam terdiam. Beliau hanya
menunjuk bayinya. Dan ketika itu bercakaplah sang
bayi menjelaskan jati dirinya sebagai hamba Allah
yang diberi Al-Kitab, shalat, berzakat serta
mengabdi kepada ibunya. Kemudian sang bayi berdoa:
“Salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku
pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan pada hari
ketika aku dibangkitkan hidup kembali.”
Itu cuplikan kisah Natal dari Al-Quran Surah Maryam ayat 34.
Dengan demikian, Al-Quran mengabadikan dan merestui ucapan
selamat Natal pertama dari dan untuk Nabi mulia itu, Isa
a.s. Terlarangkah mengucapkan salam semacam itu? Bukankah
Al-Quran telah memberikan contoh? Bukankah ada juga salam
yang tertuju kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, keluarga
Ilyas, serta para nabi lainnya? Setiap Muslim harus percaya
kepada Isa a.s. seperti penjelasan ayat di atas, juga harus
percaya kepada Muhammad saw., karena keduanya adalah hamba
dan utusan Allah. Kita mohonkan curahan shalawat dan salam
untuk. mereka berdua sebagaimana kita mohonkan untuk seluruh
nabi dan rasul. Tidak bolehkah kita merayakan hari lahir
(natal) Isa a.s.? Bukankah Nabi saw. juga merayakan hari
keselamatan Musa a.s. dari gangguan Fir’aun dengan berpuasa
‘Asyura, seraya bersabda, “Kita lebih wajar merayakannya
daripada orang Yahudi pengikut Musa a.s.” Bukankah, “Para Nabi bersaudara hanya ibunya yang berbeda?”
seperti disabdakan Nabi Muhammad saw.? Bukankah seluruh umat
bersaudara? Apa salahnya kita bergembira dan menyambut
kegembiraan saudara kita dalam batas kemampuan kita, atau
batas yang digariskan oleh anutan kita? Demikian lebih
kurang pandangan satu pendapat. Banyak persoalan yang berkaitan dengan kehidupan Al-Masih
yang dijelaskan oleh sejarah atau agama dan telah
disepakati, sehingga harus diterima. Tetapi, ada juga yang
tidak dibenarkan atau diperselisihkan. Disini, kita berhenti
untuk merujuk kepercayaan kita. Isa a.s. datang mermbawa kasih, “Kasihilah seterumu dan
doakan yang menganiayamu.” Muhammad saw. datang membawa
rahmat, “Rahmatilah yang di dunia, niscaya yang di langit
merahmatimu.” Manusia adalah fokus ajaran keduanya; karena
itu, keduanya bangga dengan kemanusiaan. Isa menunjuk dirinya sebagai “anak manusia,” sedangkan
Muhammad saw. diperintah:kan oleh Allah untuk berkata: “Aku
manusia seperti kamu.” Keduanya datang membebaskan manusia
dari kemiskinan ruhani, kebodohan, dan belenggu penindasan.
Ketika orang-orang mengira bahwa anak Jailrus yang sakit
telah mati, Al-Masih yang menyembuhkannya meluruskan
kekeliruan mereka dengan berkata, “Dia tidak mati, tetapi
tidur.” Dan ketika terjadi gerhana pada hari wafatnya putra
Muhammad, orang berkata: “Matahari mengalami gerhana karena
kematiannya.” Muhammad saw. lalu menegur, “Matahari tidak
mengalami gerhana karena kematian atau kehahiran seorang.”
Keduanya datang membebaskan maanusia baik yang kecil, lemah
dan tertindas -dhu’afa’ dan al-mustadh’affin dalam istilah
Al-Quran. Bukankah ini satu dari sekian titik temu antara Muhammad dan
Al-Masih? Bukankah ini sebagian dari kandungan Kalimat Sawa’
(Kata Sepakat) yang ditawarkan Al-Quran kepada penganut
Kristen (dan Yahudi (QS 3:64)? Kalau demikian, apa salahnya
mengucapkan selamat natal, selama akidah masih dapat
dipelihara dan selama ucapan itu sejalan dengan apa yang
dimaksud oleh Al-Quran sendiri yang telah mengabadikan
selamat natal itu? Itulah antara lain alasan yang membenarkan seorang Muslim
mengucapkan selamat atau menghadiri upacara Natal yang bukan
ritual . Di sisi lain, marilah kita menggunakan kacamata
yang melarangnya. Agama, sebelum negara, menuntut agar kerukunan umat
dipelihara. Karenanya salah, bahkan dosa, bila kerukunan
dikorbankan atas nama agama. Tetapi, juga salah serta dosa
pula, bila kesucian akidah ternodai oleh atau atas nama
kerukunan. Teks keagamaan yang berkaitan dengan akidah sangat jelas,
dan tidak juga rinci. Itu semula untuk menghindari kerancuan
dan kesalahpahaman. Bahkan Al-Q!uran tidak menggunakan satu
kata yang mungkin dapat menimbulkan kesalahpahaman, sampai
dapat terjamin bahwa kata atau kalimat itu, tidak
disalahpahami. Kata “Allah,” misalnya, tidak digunakan oleh
Al-Quran, ketika pengertian semantiknya yang dipahami
masyarakat jahiliah belum sesuai dengan yang dikehendaki
Islam. Kata yang digunakan sebagai ganti ketika itu adalah
Rabbuka (Tuhanmu, hai Muhammad) Demikian terlihat pada
wahlyu pertama hingga surah Al-Ikhlas. Nabi saw. sering
menguji pemahaman umat tentang Tuhan. Beliau tidak sekalipun
bertanya, “Dimana Tuhan?” Tertolak riwayat sang menggunakan
redaksi itu karena ia menimbulkan kesan keberadaan Tuhan
pada satu tempat, hal yang mustahil bagi-Nya dan mustahil
pula diucapkan oleh Nabi. Dengan alasan serupa, para ulama
bangsa kita enggan menggunakan kata “ada” bagi Tuhan,
tetapi “wujud Tuhan.” Natalan, walaupun berkaitan dengan Isa Al-Masih, manusia
agung lagi suci itu, namun ia dirayakan oleh umat Kristen
yang pandangannya terhadap Al-Masih berbeda dengan pandangan
Islam. Nah, mengucapkan “Selamat Natal” atau menghadiri
perayaannya dapat menimbulkan kesalahpahaman dan dapat
mengantar kepada pengaburan akidah. Ini dapat dipahami
sebagai pengakuan akan ketuhanan Al-Masih, satu keyakinan
yang secara mutlak bertentangan dengan akidah Islam. Dengan
kacamata itu, lahir larangan dan fatwa haram itu,
sampai-sampai ada yang beranggapan jangankan ucapan selamat,
aktivitas apa pun yang berkaitan dengan Natal tidak
dibenarkan, sampai pada jual beli untuk keperluann Natal. Adakah kacamata lain? Mungkin! Seperti terlihat, larangan ini muncul dalam rangka upaya
memelihara akidah. Karena, kekhawatiran kerancuan pemahaman,
agaknya lebih banyak ditujukan kepada mereka yang
dikhawatirkan kabur akidahnya. Nah, kalau demikian, jika ada
seseorang yang ketika mengucapkannya tetap murni akidahnya
atau mengucapkannya sesuai dengan kandungan “Selamat
Natal” Qurani, kemudian mempertimbangkan kondisi dan
situasi dimana hal itu diucapkan, sehingga tidak menimbulkan
kerancuan akidah baik bagi dirinya ataupun Muslim yang lain,
maka agaknya tidak beralasan adanya larangan itu. Adakah
yang berwewenang melarang seorang membaca atau mengucapkan
dan menghayati satu ayat Al-Quran? Dalam rangka interaksi sosial dan keharmonisan hubungan,
Al-Quran memperkenalkan satu bentuk redaksi, dimana lawan
bicara memahaminya sesuai dengan pandangan atau
keyakinannya, tetapi bukan seperti yang dimaksud oleh
pengucapnya. Karena, si pengucap sendiri mengucapkan dan
memahami redaksi itu sesuai dengan pandangan dan
keyakinannya. Salah satu contoh yang dikemukakan adalah
ayat-ayat yang tercantum dalam QS 34:24-25. Kalaupun
non-Muslim memahami ucapan “Selamat Natal” sesuai dengan
keyakinannya, maka biarlah demikian, karena Muslim yang
memahami akidahnya akan mengucapkannya sesuai dengan garis
keyakinannya. Memang, kearifan dibutuhkan dalam rangka
interaksi sosial. Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan itu,
bila ia ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai
akidahnya. Tetapi, tidak juga salah mereka yang
membolehkannya, selama pengucapnya bersikap arif bijaksana
dan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika hal
tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan. Dostojeivsky (1821-1881), pengarang Rusia kenamaan, pernah
berimajinasi tentang kedatangan kembali Al-Masih. Sebagian
umat Islam pun percaya akan kedatangannya kembali. Terlepas
dari penilaian terhadap imajinasi dan kepercayaan itu, kita
dapat memastikan bahwa jika benar beliau datang, seluruh
umat berkewajiban menyambut dan mendukungnya, dan pada saat
kehadirannya itu pasti banyak hal yang akan beliau luruskan.
Bukan saja sikap dan ucapan umatnya, tetapi juga sikap dan
ucapan umat Muhammad saw. Salam sejahtera semoga tercurah
kepada beliau, pada hari Natalnya, hari wafat dan hari
kebangkitannya nanti. MEMBUMIKAN AL-QURAN
Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat
Dr. M. Quraish Shihab Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996
Jln. Yodkali 16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 – Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net
bersandar ke pohon kurma. Ingin rasanya beliau
mati, bahkan tidak pernah hidup sama sekali.
Tetapi Malaikat Jibril datang menghibur: “Ada anak
sungai di bawahmu, goyanghan pangkal pohon kurma
ke arahmu, makan, minum dan senangkan hatimu.
Kalau ada yang datang katakan: ‘Aku bernazar tidak
bicara.’”
“Hai Maryam, engkau melakukan yang amat buruk.
Ayahmu bukan penjahat, ibumu pun bukan penzina,”
demikian kecaman kaumnya, ketika melihat bayi di
gendongannya. Tetapi Maryam terdiam. Beliau hanya
menunjuk bayinya. Dan ketika itu bercakaplah sang
bayi menjelaskan jati dirinya sebagai hamba Allah
yang diberi Al-Kitab, shalat, berzakat serta
mengabdi kepada ibunya. Kemudian sang bayi berdoa:
“Salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku
pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan pada hari
ketika aku dibangkitkan hidup kembali.”
Itu cuplikan kisah Natal dari Al-Quran Surah Maryam ayat 34.
Dengan demikian, Al-Quran mengabadikan dan merestui ucapan
selamat Natal pertama dari dan untuk Nabi mulia itu, Isa
a.s. Terlarangkah mengucapkan salam semacam itu? Bukankah
Al-Quran telah memberikan contoh? Bukankah ada juga salam
yang tertuju kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, keluarga
Ilyas, serta para nabi lainnya? Setiap Muslim harus percaya
kepada Isa a.s. seperti penjelasan ayat di atas, juga harus
percaya kepada Muhammad saw., karena keduanya adalah hamba
dan utusan Allah. Kita mohonkan curahan shalawat dan salam
untuk. mereka berdua sebagaimana kita mohonkan untuk seluruh
nabi dan rasul. Tidak bolehkah kita merayakan hari lahir
(natal) Isa a.s.? Bukankah Nabi saw. juga merayakan hari
keselamatan Musa a.s. dari gangguan Fir’aun dengan berpuasa
‘Asyura, seraya bersabda, “Kita lebih wajar merayakannya
daripada orang Yahudi pengikut Musa a.s.” Bukankah, “Para Nabi bersaudara hanya ibunya yang berbeda?”
seperti disabdakan Nabi Muhammad saw.? Bukankah seluruh umat
bersaudara? Apa salahnya kita bergembira dan menyambut
kegembiraan saudara kita dalam batas kemampuan kita, atau
batas yang digariskan oleh anutan kita? Demikian lebih
kurang pandangan satu pendapat. Banyak persoalan yang berkaitan dengan kehidupan Al-Masih
yang dijelaskan oleh sejarah atau agama dan telah
disepakati, sehingga harus diterima. Tetapi, ada juga yang
tidak dibenarkan atau diperselisihkan. Disini, kita berhenti
untuk merujuk kepercayaan kita. Isa a.s. datang mermbawa kasih, “Kasihilah seterumu dan
doakan yang menganiayamu.” Muhammad saw. datang membawa
rahmat, “Rahmatilah yang di dunia, niscaya yang di langit
merahmatimu.” Manusia adalah fokus ajaran keduanya; karena
itu, keduanya bangga dengan kemanusiaan. Isa menunjuk dirinya sebagai “anak manusia,” sedangkan
Muhammad saw. diperintah:kan oleh Allah untuk berkata: “Aku
manusia seperti kamu.” Keduanya datang membebaskan manusia
dari kemiskinan ruhani, kebodohan, dan belenggu penindasan.
Ketika orang-orang mengira bahwa anak Jailrus yang sakit
telah mati, Al-Masih yang menyembuhkannya meluruskan
kekeliruan mereka dengan berkata, “Dia tidak mati, tetapi
tidur.” Dan ketika terjadi gerhana pada hari wafatnya putra
Muhammad, orang berkata: “Matahari mengalami gerhana karena
kematiannya.” Muhammad saw. lalu menegur, “Matahari tidak
mengalami gerhana karena kematian atau kehahiran seorang.”
Keduanya datang membebaskan maanusia baik yang kecil, lemah
dan tertindas -dhu’afa’ dan al-mustadh’affin dalam istilah
Al-Quran. Bukankah ini satu dari sekian titik temu antara Muhammad dan
Al-Masih? Bukankah ini sebagian dari kandungan Kalimat Sawa’
(Kata Sepakat) yang ditawarkan Al-Quran kepada penganut
Kristen (dan Yahudi (QS 3:64)? Kalau demikian, apa salahnya
mengucapkan selamat natal, selama akidah masih dapat
dipelihara dan selama ucapan itu sejalan dengan apa yang
dimaksud oleh Al-Quran sendiri yang telah mengabadikan
selamat natal itu? Itulah antara lain alasan yang membenarkan seorang Muslim
mengucapkan selamat atau menghadiri upacara Natal yang bukan
ritual . Di sisi lain, marilah kita menggunakan kacamata
yang melarangnya. Agama, sebelum negara, menuntut agar kerukunan umat
dipelihara. Karenanya salah, bahkan dosa, bila kerukunan
dikorbankan atas nama agama. Tetapi, juga salah serta dosa
pula, bila kesucian akidah ternodai oleh atau atas nama
kerukunan. Teks keagamaan yang berkaitan dengan akidah sangat jelas,
dan tidak juga rinci. Itu semula untuk menghindari kerancuan
dan kesalahpahaman. Bahkan Al-Q!uran tidak menggunakan satu
kata yang mungkin dapat menimbulkan kesalahpahaman, sampai
dapat terjamin bahwa kata atau kalimat itu, tidak
disalahpahami. Kata “Allah,” misalnya, tidak digunakan oleh
Al-Quran, ketika pengertian semantiknya yang dipahami
masyarakat jahiliah belum sesuai dengan yang dikehendaki
Islam. Kata yang digunakan sebagai ganti ketika itu adalah
Rabbuka (Tuhanmu, hai Muhammad) Demikian terlihat pada
wahlyu pertama hingga surah Al-Ikhlas. Nabi saw. sering
menguji pemahaman umat tentang Tuhan. Beliau tidak sekalipun
bertanya, “Dimana Tuhan?” Tertolak riwayat sang menggunakan
redaksi itu karena ia menimbulkan kesan keberadaan Tuhan
pada satu tempat, hal yang mustahil bagi-Nya dan mustahil
pula diucapkan oleh Nabi. Dengan alasan serupa, para ulama
bangsa kita enggan menggunakan kata “ada” bagi Tuhan,
tetapi “wujud Tuhan.” Natalan, walaupun berkaitan dengan Isa Al-Masih, manusia
agung lagi suci itu, namun ia dirayakan oleh umat Kristen
yang pandangannya terhadap Al-Masih berbeda dengan pandangan
Islam. Nah, mengucapkan “Selamat Natal” atau menghadiri
perayaannya dapat menimbulkan kesalahpahaman dan dapat
mengantar kepada pengaburan akidah. Ini dapat dipahami
sebagai pengakuan akan ketuhanan Al-Masih, satu keyakinan
yang secara mutlak bertentangan dengan akidah Islam. Dengan
kacamata itu, lahir larangan dan fatwa haram itu,
sampai-sampai ada yang beranggapan jangankan ucapan selamat,
aktivitas apa pun yang berkaitan dengan Natal tidak
dibenarkan, sampai pada jual beli untuk keperluann Natal. Adakah kacamata lain? Mungkin! Seperti terlihat, larangan ini muncul dalam rangka upaya
memelihara akidah. Karena, kekhawatiran kerancuan pemahaman,
agaknya lebih banyak ditujukan kepada mereka yang
dikhawatirkan kabur akidahnya. Nah, kalau demikian, jika ada
seseorang yang ketika mengucapkannya tetap murni akidahnya
atau mengucapkannya sesuai dengan kandungan “Selamat
Natal” Qurani, kemudian mempertimbangkan kondisi dan
situasi dimana hal itu diucapkan, sehingga tidak menimbulkan
kerancuan akidah baik bagi dirinya ataupun Muslim yang lain,
maka agaknya tidak beralasan adanya larangan itu. Adakah
yang berwewenang melarang seorang membaca atau mengucapkan
dan menghayati satu ayat Al-Quran? Dalam rangka interaksi sosial dan keharmonisan hubungan,
Al-Quran memperkenalkan satu bentuk redaksi, dimana lawan
bicara memahaminya sesuai dengan pandangan atau
keyakinannya, tetapi bukan seperti yang dimaksud oleh
pengucapnya. Karena, si pengucap sendiri mengucapkan dan
memahami redaksi itu sesuai dengan pandangan dan
keyakinannya. Salah satu contoh yang dikemukakan adalah
ayat-ayat yang tercantum dalam QS 34:24-25. Kalaupun
non-Muslim memahami ucapan “Selamat Natal” sesuai dengan
keyakinannya, maka biarlah demikian, karena Muslim yang
memahami akidahnya akan mengucapkannya sesuai dengan garis
keyakinannya. Memang, kearifan dibutuhkan dalam rangka
interaksi sosial. Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan itu,
bila ia ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai
akidahnya. Tetapi, tidak juga salah mereka yang
membolehkannya, selama pengucapnya bersikap arif bijaksana
dan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika hal
tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan. Dostojeivsky (1821-1881), pengarang Rusia kenamaan, pernah
berimajinasi tentang kedatangan kembali Al-Masih. Sebagian
umat Islam pun percaya akan kedatangannya kembali. Terlepas
dari penilaian terhadap imajinasi dan kepercayaan itu, kita
dapat memastikan bahwa jika benar beliau datang, seluruh
umat berkewajiban menyambut dan mendukungnya, dan pada saat
kehadirannya itu pasti banyak hal yang akan beliau luruskan.
Bukan saja sikap dan ucapan umatnya, tetapi juga sikap dan
ucapan umat Muhammad saw. Salam sejahtera semoga tercurah
kepada beliau, pada hari Natalnya, hari wafat dan hari
kebangkitannya nanti. MEMBUMIKAN AL-QURAN
Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat
Dr. M. Quraish Shihab Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996
Jln. Yodkali 16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 – Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net
Posted in Uncategorized
Leave a comment
Tentang Mandi Junub Hadast Besar
Tata cara mandi :
1. Menghilangkan kotoran terlebih dahulu, seperti mani, kencing dan lain-lain.
2. Kemudian menghadap qiblat, membaca basmalah , bersiwak, membasuh kedua telapak tangan, berkumur dan istinsyaq, masing masing tiga kali dengan niat mengerjakan sunnah-sunnah mandi.
3. Membasuh dua kemaluan dengan niat menghilangkan janabat pada keduanya.
4. Berwudlu’ sebagaimana biasanya.
5. Mengguyur kepala sambil niat seperti niat-niat di atas.
6. Menyiramkan air pada bagian depan dan belakang tubuh sebelah kanan, kemudian bagian depan dan belakang tubuh sebelah kiri, sambil memperhatikan anggota badan yang sulit dilalui air.
Masalah wudhu’ bagi orang yang mandi janabah ada dua pendapat.
Pertama : dicukupkan dengan mengangkat hadats besar (mandi) karena dengan sendirinya hadats kecil terangkat pula dengan syarat di waktu melaksanakan mandi tidak melakukan perkara yang membatalkan wudhu’ seperti menyentuh kemaluan dengan telapak tangan. Dan ini adalah pendapat yang mu’tamad.
Kedua : tidak cukup dengan mandi (diharuskan wudhu’) karena hadats kecil terangkat dengan wudhu’ dan hadats besar terangkat dengan mandi, permasalahan berbeda dan hukumnya tentunya berbeda.
Posted in Uncategorized
Leave a comment
Kirim pulsa Smartfren
Melalui SMS dengan cara mengetik syntax KIRIM.NOMOR HP TUJUAN.DENOMINASI dan kirim ke nomor 879.
Contoh: KIRIM.08881234567.5000
Untuk transaksi kirim pulsa melalui SMS juga dikenakan tarif Rp. 500,-/ SMS
Posted in Uncategorized
Leave a comment
F1 Brazilian Grand Prix
| Jumat, 23 November 2012 | |
| 18:55 | Brazilian Grand Prix : 1st Practice |
| 22:55 | Brazilian Grand Prix : 2nd Practice |
| Sabtu, 24 November 2012 | |
| 19:55 | Brazilian Grand Prix : 3rd Practice |
| 22:50 | Brazilian GP: Qualifying |
| Minggu, 25 November 2012 | |
| 22:00 | Brazilian Grand Prix |
| 22:55 | Brazilian GP: Main Race On-Board Camera |
| 22:55 | Brazilian GP: Main Race (Widescreen) |
Posted in Uncategorized
Leave a comment
Cara Transfer Pulsa dan Masa aktif AHA
Cara Transfer PULSA Esia ke Esia atau Esia ke Aha:
Ketik: TRANSFER Jumlah TalkTime yang mau dikirimNo.Esia/aha
penerima harus beserta kode areanya kirim ke 789
Tarif: Rp250+PPn/SMS Contoh:SMS: TRANSFER 50000 03191000609
Ke: 789 Cara Transfer MASA AKTIF Esia ke Esia atau Esia ke Aha:
Ketik: WAKTU “Jumlah Hari tambahan masa aktif yang akan dikirim” “No.Esia/aha
penerima harus beserta kode areanya” kirim ke 789Tarif: Rp250+PPn/hari + Rp250+PPn/SMS Contoh:
SMS: WAKTU 30 03191000609
Ke: 789
Ketik: TRANSFER Jumlah TalkTime yang mau dikirimNo.Esia/aha
penerima harus beserta kode areanya kirim ke 789
Tarif: Rp250+PPn/SMS Contoh:SMS: TRANSFER 50000 03191000609
Ke: 789 Cara Transfer MASA AKTIF Esia ke Esia atau Esia ke Aha:
Ketik: WAKTU “Jumlah Hari tambahan masa aktif yang akan dikirim” “No.Esia/aha
penerima harus beserta kode areanya” kirim ke 789Tarif: Rp250+PPn/hari + Rp250+PPn/SMS Contoh:
SMS: WAKTU 30 03191000609
Ke: 789
Posted in Uncategorized
Leave a comment
Show hidden files Mac OS X 10.7 Lion and 10.8 Mountain Lion
To enable hidden files/folders in finder windows:
• Open Finder
• Open the Utilities folder
• Open a terminal window
• Copy and paste the following line in: defaults write com.apple.Finder AppleShowAllFiles YES
• Press return
• Now hold ‘alt’ on the keyboard and right click on the Finder icon
• Click on Relaunch You should find you will now be able to see any hidden files or folders. One you are done, perform the steps above however, replace the terminal command in step 4 with: defaults write com.apple.Finder AppleShowAllFiles NO
• Open the Utilities folder
• Open a terminal window
• Copy and paste the following line in: defaults write com.apple.Finder AppleShowAllFiles YES
• Press return
• Now hold ‘alt’ on the keyboard and right click on the Finder icon
• Click on Relaunch You should find you will now be able to see any hidden files or folders. One you are done, perform the steps above however, replace the terminal command in step 4 with: defaults write com.apple.Finder AppleShowAllFiles NO
Posted in Uncategorized
Leave a comment
Cleaning Up Mac OS X
Besides doing a fresh install, does anyone have any tips for uncluttering Mac OS X? I install and uninstall a fair few apps and find that after a while things start to chug. I was hoping there might be an easy way to clean orphan files floating around the place and get things feeling snappy again.
Here’s the answer
Go to ~/Library/Preferences/ and sort by modification date. Anything unused in the last x weeks/months can go. Simply start any application once you install. Keep the files around another month in case you start an application and have an unexpected first-launch experience.
Use a tool like DiskInventoryX oder DaisyDisk, point it at ~/Library/Application Support and nuke anything with more that X MB (I’d recommend 10) you don’t recognize or no longer use.
There is no “100%” solution, and since you keep on installing/trying/uninstalling there’s really no point.
Check the LaunchAgents and LaunchDemons folders within your user library and the /Library, as well as the Accounts preference pane in System Preferences.app for unnecessary Login Items
Use DiskInventoryX (free) or DaisyDisk (non-free but pretty) to look around your whole disk to see where your storage went.
Now we’re getting very much into subjective territory:
Read into which folders are excluded by default from Time Machine (you don’t see them in the preference pane!), I am pretty sure Logs and Caches are among them. Trash their contents (although I find both rather useful, so YMMV).
Most applications can be moved around directories, so if you suffer from application overload, move your own applications to a different directory and remove them from the Dock (preferably one not indexed by your application launcher, i.e. LaunchBar, Quicksilver, etc. if you use such software) and move them out from that “quarantine” once you need them. One month later, delete the “quarantine” directory.
Try out the shareware Hazel. Not for me, but helps with cluttered download folders, I hear.
Install your applications only in ~/Applications (folder within your user directory, need to create it first), except where not possible (iWork and VMware Fusion, and generally everything with an installer comes to mind). This way you can easily carry them over to a different machine without changing/Applications, you cannot mess up access permissions for software accessible to all users and can be sure which ones can be freely trashed, and which ones probably shouldn’t.
If you’re using Time Machine, it supports restoring only user directories after a fresh install. This goes well with applications in ~/Applications, you might need to reinstall drivers and Installer.app-installed software, though.
Posted in Uncategorized
Leave a comment
Cleaning Up Mac OS X
Besides doing a fresh install, does anyone have any tips for uncluttering Mac OS X? I install and uninstall a fair few apps and find that after a while things start to chug. I was hoping there might be an easy way to clean orphan files floating around the place and get things feeling snappy again.
Here’s the answer
Go to ~/Library/Preferences/ and sort by modification date. Anything unused in the last x weeks/months can go. Simply start any application once you install. Keep the files around another month in case you start an application and have an unexpected first-launch experience.
Use a tool like DiskInventoryX oder DaisyDisk, point it at ~/Library/Application Support and nuke anything with more that X MB (I’d recommend 10) you don’t recognize or no longer use.
There is no “100%” solution, and since you keep on installing/trying/uninstalling there’s really no point.
Check the LaunchAgents and LaunchDemons folders within your user library and the /Library, as well as the Accounts preference pane in System Preferences.app for unnecessary Login Items
Use DiskInventoryX (free) or DaisyDisk (non-free but pretty) to look around your whole disk to see where your storage went.
Now we’re getting very much into subjective territory:
Read into which folders are excluded by default from Time Machine (you don’t see them in the preference pane!), I am pretty sure Logs and Caches are among them. Trash their contents (although I find both rather useful, so YMMV).
Most applications can be moved around directories, so if you suffer from application overload, move your own applications to a different directory and remove them from the Dock (preferably one not indexed by your application launcher, i.e. LaunchBar, Quicksilver, etc. if you use such software) and move them out from that “quarantine” once you need them. One month later, delete the “quarantine” directory.
Try out the shareware Hazel. Not for me, but helps with cluttered download folders, I hear.
Install your applications only in ~/Applications (folder within your user directory, need to create it first), except where not possible (iWork and VMware Fusion, and generally everything with an installer comes to mind). This way you can easily carry them over to a different machine without changing/Applications, you cannot mess up access permissions for software accessible to all users and can be sure which ones can be freely trashed, and which ones probably shouldn’t.
If you’re using Time Machine, it supports restoring only user directories after a fresh install. This goes well with applications in ~/Applications, you might need to reinstall drivers and Installer.app-installed software, though.
Posted in Uncategorized
Leave a comment



