Krisis Ekonomi

—————

http://www.kompasiana.com/post/moneter/2012/02/15/mengapa-terjadi-krisis-ekon…

Mengapa Terjadi Krisis Ekonomi?
Oleh: Budi Hikmat | 15 February 2012 | 17:54 WIB

Krisis ekonomi, baik penyebab dan akibatnya, kerap bertali dengan pesta. Semua suka pesta, adakah yang tidak suka? Malah ada penggila pesta. Ada bandar penggelar pesta yang diuntungkan oleh luapan suka selama pesta. Sebab pesta cenderung konsumtif. Sesuka hati makan, minum, senyum, tawa, canda, goyang dan mabuk. Asyik lupa diri, lupa hidup, lupa mati, lupa keluarga, lupa tuhan.

Namun setiap pesta jelas mesti ada akhir. Tepatnya, saku dan waktu mengakhiri pesta. Ongkos pesta mesti dibayar. Malang bila pesta dibiayai utang. Harta tergadai, keluarga terabai.

Ketika bayang asap memudar (when the smoke is going down), penggila pesta yang masih fly di panggung bergumam, “This is the place where I belong/I really love to turn you on…”

Saya yakin ada pembaca yang bilang kayaknya gue kenal lagu ini…

Namun bandar dan penangih utang yang menggusurnya menyentak, “Hit the road Jack and don’t you come back no more, no more, no more, no more…”

Hayoo, lagu siapa ini?

Cukup sudah dramatisasi. Kini lebih sistematis (dan matematis) memahami krisis.

Secara teoretis, krisis itu peristiwa memaksa kembali kepada keseimbangan. Dalam keadaan ideal, permintaan barang dan jasa sepadan dengan produksi.

Sekarang kita de-komposisi permintaan barang dan jasa berdasarkan aktor. Ada rumah tangga yang dianggap konsumptif (C). Perusahaan yang membeli barang untuk investasi (I). Ada juga pengeluaran pemerintah (G). Selain ketiga aktor domestik ini, ada juga permintaan dari luar negeri berupa ekspor (X).

Kita menulis permintaan total sebagai = C + I + G + X

Lalu bagaimana sisi penawaran produksi? Memang ada yang diproduksi di dalam negeri (Y) dan ada yang berasal dari luar negeri melalui impor (M). Sehingga produksi total = Y + M

Dalam keadaan seimbang permintaan sama dengan produksi. Sehingga bisa ditulis:

Y + M = C + I + G + X
Keynes, mbah economist dari kampungnya Pangeran Charles (sebetulnya saya lebih suka Lady Di…), menulis persamaan diatas menjadi:

Y = C + I + G + (X-M)

Bagian terakhir pada bagian sebelah kanan persamaan menunjukkan neraca pembayaran dengan luar negeri.
Nilai (X-M) yang positif menunjukkan kita mengalami surplus neraca pembayaran yang pada dasarnya kita punya pendapatan yang bisa meningkatkan pundi-pundi cadangan devisa.

Demikian juga sebaliknya bila (X-M) negatif. Akibat impor melebihi ekspor, kita mesti bayar kepada pihak asing. Pundi-pundi kekayaan devisa berkurang, atau bahkan kita tambah utang.
Keynes kembali merombak rumus diatas menjadi:

(X – M) = (Y – A)

dimana A adalah gabungan C + I + G yang menggambarkan total permintaan domestik.

Saya bisa memaklumi bila ada yang mulai pusing. Namun, bersabarlah. Ini rumus terakhir yang SANGAT membantu untuk memahami konstelasi kebijakan makroekonomi secara umum. Dan juga memahami mengapa terjadi krisis. Ayo, kuatkan fokus perhatian.

Seperti telah diulas (X-M) negatif yang berarti neraca pembayaran defisit, bertalian dengan produksi dalam negeri (Y) yang tidak memadai untuk memenuhi permintaan domestik (A). Nah, kondisi defisit ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Sebab ada keterbatasan untuk membiayai defisit, baik melalui penjualan asset (bahasa keren untuk privatisasi asset negara) dan berutang. Pemerintah mesti segera menempuh beragam kebijakan sebelum sumber pembiayaan defisit ludes.

Kebijakan tersebut pada dasarnya terdiri dari tiga kelompok.

Upaya mengendalikan permintaan domestik (A) yang bisa dilakukan dengan menekan pengeluaran pemerintah (G), menaikkan pajak, atau menaikkan suku bunga agar peningkatan biaya modal ini mengerem konsumsi (C) dan investasi (I). Kebijakan ini kerap dikenal sebagai demand management yang cenderung berjangka pendek untuk stabilisasi.

Upaya menggenjot produksi domestik (Y). Ini kerap dikenal sebagai structural policy. Sebab yang mesti dirombak kerap terkait faktor struktural, seperti mengembangkan institusi yang bermanfaat mendorong pertumbuhan dan membabat institusi yang menghambat. Misalnya deregulasi dan debirokratisasi. Atau juga mempercepat penyediaan infrastruktur dan teknologi untuk mendorong produksi. Ataumendorong proses produksi. Bagaimana rendang padang bisa selalu ayam goreng KFC dan burger McD? Bagaimana film Indonesia bisa berjaya di layar perak domestik sekaligus bisa diekspor. Bagaimana sepatu Indonesia bisa bersaing dengan buatan China. Bagaimana anak bangsa tidak lagi berselisih masalah SARA, bikin pabrik tanpa diusik. Polisi dan politisi tidak memeras minta komisi. Pejabatmemegang amanah, bukan berlomba mengangkangi ghonimah (Red: ini pampasan perang, bukan nama pembantu anda di rumah).

Kebijakan nilai tukar agar rupiah lebih kompetitif buat memacu ekspor yang lebih pesat ketimbang ekspor, namun tanpa memicu inflasi. Ketika krisis keuangan global 2008 merebak, China melakukan upaya mencegah penguatan yuan selama tahun 2009 untuk mencegah penguatan itu mengancam ekspor. China melalukannya dengan intervensi beli arus modal asing yang masuk. Memang ini membuat cadangan devisa melonjak, hingga melebihi US$3 triliun (bayangkan kita hanya pada kisaran $100 miliar). Namun kungfu China seperti itu juga langsung menyebabkan lonjakan uang beredar di dalam negeri sehingga memicu inflasi. Itu sebabnya selama tahun 2010 pemerintah China sangat agresif melakukan pengetatan likuiditas.

Nah dalam praktek, pelaksanaan ketiga kebijakan diatas tidak gampang. Banyak pemerintah, apalagi yang menganut sistem politik demokrasi, ternyata cenderung populer: enggan menaikkan pajak dan malas mengerem konsumsi pemerintah. Takut tak terpilih lagi? Kelihatannya seperti itu. Akibatnya jelas: pembiayaan pembangunan ditopang dengan berutang. Lambat laun utang mengunung. Sadar terlambat. Segan balik badan.

Tengok Tabel berikut yang menunjukkan posisi utang, sentiment risiko atas kebangkrutan (CDS, credit default swap), peringkat, dan beban utang relatif terhdap pendapatan (Debt/GDP). Terlihat Yunani dengan utang $447 miliar dollar atau setara 143% GDP. Kalau anda memiliki utang Yunani, investor baru mau membelinya setelah didiscount 78%. Tidak heran bila peringkatnya anjlok dibawah standar investasi.

Utang Picu Resesi
Pembayaran utang baik melalui jual barang dan meningkatkan tabungan dipastikan akan memperlambat pertumbuhan ekonomi di kemudian hari. Jadi resesi (perlambatan ekonomi) pada hakikatnya sulit ditolak. Sebagai antisipasi risiko inflasi, para investor ngacir menjual asset negara yang dililit utang. Akibatnya nilai tukar melemah drastis. Untuk menstabilan nilai tukar, bank sentral mesti melakukan intervensi jual valas yang menguras cadangan devisa. Ini krisis nilai tukar yang pernah kita alami tahun 1997.

Ingatlah dulu kita berutang demikian banyak. Buktinya tingkat pajak kita terbilang rendah. Kejatuhan rupiah melandasi kemalangan di pasar modal. Parahnya, krisis nilai tukar ini segera memicu krisis perbankan. Selain karena bank banyak ngutang valas, juga karena asset bank (yakni kredit) kualitasnya turun (NPL, non performing loan). Sementara liability yakni dana masyarakat ludes ditarik. Akibatnya pemerintah mesti menyamin deposito dan menambah modal bank (rekapitalisasi) dengan penerbitan surat utang.

Temuan empiris Reinhard dan Rogoff (2010) menyimpulkan peningkatan risiko stagflasi (perlambatan ekonomi yang disertai inflasi) cenderung dialami oleh negara yang rasio utang telah melebihi 90% GDP. Negara berkembang dilaporkan memiliki risiko stagflasi yang lebih besar ketimbang negara maju.

Investor pasar modal tidak menyukai stagflasi. Sebab perlambatan ekonomi bakal memangkas laba, sumber harapan keuntungan bagi investor saham. Sementara inflasi menggerus kupon dan pokok obligasi. Selanjutnya harga obligasi cenderung turun apabila bank sentral menaikkan bunga untuk mengendalikan inflasi.

Strategi investasi yang paling tepat untuk menghadapi stagflasi ini adalah menyimpan kekayaan lebih banyak didalam bentuk emas atau cash. Mengapa cash? Meski tidak memberikan keuntungan nominal, cash kerap sangat diperlukan untuk membeli aset seperti saham dan obligasi yang harganya sudah terjungkal (deep discount). Itu sebabnya pasar modal negara yang dililit beban utang pada rontok.

So, what is moral story of this write-ups? Silakan baca kembali:http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/01/26/perubahan-paradigma-perilaku-3-membiayai-masa-depan-bukan-menjualnya/

Selain itu, sesungguhnya kita mesti hati-hati dengan berbagai kebijakan yang populer, ya seperti subsidi BBM yang tahun lalu melonjak hingga Rp165 triliun. Padahal dana itu bisa digunakan untuk penyediaan infrastruktur seperti jalan, jembatan, sarana transportasi massal, pendidikan, pemberdayaan petani dan nelayan.

Di akhir posting ini saya teringat ayat, “Sesungguhnya manusia itu menyaksikan kezalimannya…” Dan bila menyaksikan solusi utang diselesaikan dengan menambah utang (lihat saja the Fed), saya teringat lirik lagu Manfred Mann’s Earth Band (jadul banget dah gue), They answered my questions with questions…

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>